Dikemas dalam gaya seloroh, nakal dan santai, kumpulan kolom Umar Kayam ini mencuatkan sesuatu yang transendental. Teknik penulisannya pun, uniknya, mengingatkan kita pada Obrolan Pak Besut di RRI Yogyakarta dahulu yang menghadirkan sejumlah tokoh tetap, dan mengikat "alur cerita" dengan warna lokal yang kental.
Sekuel novel Para Priyayi. Ini adalah kisah generasi ketiga keluarga Soedarsono. Ketika para anak dan cucu tidak sesuai dengan garis priyayi mereka. Cucu-cucu mereka tidak lagi menikah dengan orang Jawa, akan tetapi dengan orang-orang diluar suku Jawa, yang tentu saja tidak sesuai dengan trah keluarga priyayi mereka. Seperti Eko yang menikah dengan Claire, orang Yahudi di Amerika Serikat. Kelua…
Buku ini merupakan buku kedua dari judul sebelumnya "Mangan ora Mangan Kumpul". Judul buku kedua ini "Sugih Tanpa Banda :mangan ora mangan kumpul 2" kurang lebih sama paradoksalnya dengan judul buku sebelumnya. Penulis memilih ungkapan yang tertuang ini pada buku ini berupa paradoks, dan memang menjadi salah satu cara khas orang Jawa di dalam menegaskan keyakinanannya.
Para Priyayi adalah sebuah novel yang dianggap sebagai master piece dari pujangga kenamaan Indonesia, Umar Kayam. Bercerita tentang seorang pemuda Jawa yang berasal dari keluarga buruh tani yang kemudian diasuh oleh seorang priyayi.
Buku ini merupakan buku ke empat kumpulan kolom Umar Kayam dalam harian Kedaulatan Rakyar, Yogyakarta, dari 1997 sampai dengan 1999. Sebagaimana tiga buku terdahulu, SPKP mengangkat beraneka ragam topik dikemas dengan latar budaya priyayi Jawa.
Cerita pendek yang menjadi judul buku ini memenangkan penghargaan cerpen terbaik majalah Horison tahun 1968. Buku kumpulan cerita ini diterbitkan di 2003 untuk mengenang setahun meninggalnya Umar Kayam.