Lewat kumpulan esai ini, Sobary mengajak kita menatap wajah kebudayaan Indonesia yang compang-camping dan menyedihkan.
Cita-cita Mohamad Sobary untuk melupakan urusan Kadonyan selama berada di tanah suci sebagian memang menjadi kenyataan. Karenanya, di masjid Nabawi, dalam shalat ia rukuk lama dan sujud lama sekali. Sepuas-puasnya. Tapi komentar-komentarnya terhadap apa yang dilihatnya, dipikirkan, ya "jalan" terus dalam gaya penuturannya yang khas Sobary; tiba ia membandingkan diri dengan penyair wanita su…
Esai di buku ini menarasikan bagaimana ketimpangan terjadi di berbagai bidang: sosial, politik, ekonomi, dan budaya.