Kehadiran buku ini seolah ingin membantah anggapan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang konservatif, tradisional, dan terbelakang, dibandingkan dengan lembaga pendidikan non-pesantren.
Buku kecil ini berusaha melakukan kritisisme atas NU sekarang ini. Memberikan impian-impian kedepan. Pemaknaan tentang Khittah NU. Sebagiannya merupakan desain penting bagi pembaruan di tubuh NU; sementara sebagiannya yang lain merupakan kritik atas faksi-faksi yang ada di NU.
Membaca judul buku ini akan terbayang dalam benak kita bahwa penulis terlalu berkhayal dan berimajinasi tinggi., mustahil terwujud obeseinya, irasional, dan ahistoris dan bahkan jauh panggung dari api, sekurang-kurangnya untuk saat ini. Hal tersebut dikarenakan sejarah menunjukkan bahwa kemunculan organisasi kemasyarakatan ditanah air telah mengalami peningkatan yang signifikan serta cenderung …
Buku ini sangat luar biasa, mengingatkan kepada kita khususnya para politik NU untuk kembali pada etika politik NU,bahwa NU sebagai jamiyyah telah memiliki seperangkat etika dalam berpolitik, yang diknela dengan mabadi khaira ummah, subtansinya diulas cukup panjang oleh penulis. Namun etika politik tersebut secara empirik dalam 10 tahun terakhor pasca reformasi, tidak selalu linier diamalkan ol…
Buku ini merupakan laporan yang paling komprehensif mengenai interaksi umat Islam dan negara pada saat Orde Baru. bagi mereka yang memahami politik keagamaan konvensional-seputar rivalitas elite abangan terhadap santri-laporan Andree memberikan pandangan yang kuat dengan menunjukkan sikap tanggap semua pelaku drama sosial tersebut, terhadap peristiwa baru yang kadang-kadang tak terantisipasi.
Banser( Barisan ANsor SERbaguna) bukanlah sekesar barisan prang Ansor yang sedang ditunggani oleh pengusung makna tertentu lewat kerapian pakaian seragam, sepatu lars, dan topi tertentu,melainkan ia adalah operator penghadir makna serbaguna untuk mengisi kemangkiran ( makna) oknum-oknum berpakaian resmi, oknum-oknum yang tidak mengenakan stiker penanda " Benteng Ulama"
Buku ini menunjukkan bahwa NU selalu konsisten berpegang pada ideologi politik keagamaan yang sudah lama dianunya, yakni mendasarkan diri pada fiqh Sunni klasik yang meletakkan prioritas tertinggi pada perlindungan terhadap posisi Islam dan para pengikutnya (umat)
Buku ini hendak Membuktikan bahwa keduanya , Soekarno dan NU, justru bertemu dalam satu titik yang sama dan sebangun : nasionalisme. Soekarno memosisikan nasionalisme dalam usaha perlawanannya terhadap penjajah, maka NU menjadikannya sebagai bagian dari semangat hubbul wathon minal iman
Buku ini memang menyajikan diskursus tentang penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai asas setiap organisasi kemasyarakatan, bentuk final negara NKRI,dan keluarga dari NU dari keanggotaan partai politik ( PPP), yang ditetapkan pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984,di Situbondo. Suatu proses pergulatan yang kemudian dikenal dengan adegium"kembali ke Khittah 1926"
Buku ini menghadirkan sosok seorang kiai yang memang pantas kita teladani. Ia total mengabdikan dirinya untuk santri dan masyarakatnya, terutama terhadap kaum papa. Ia sendiri sangat bangga dengan pengabdiannya ini. Bahkan ia menganggapnya sebagai thariqah : sebuag laku sosial dan spiritual yang pasti punya nilai dimata Tuhan
Siapakah Mbah Wahab Hasbullah? Dialah kiai dari sebuah desa kecil yang jauh sebelum Sumpah Pemuda dideklarasikan, ketika organisasi-organisasi kepemudaan masih bercorak kedaerahan, justru memilih mendirikan organisasi yang mencerminkan semnangat nasionalisme.